Minggu, 11 Maret 2012

5 Masalah Umum dengan Teman Sekamar

HIDUP bersama orang lain dalam satu atap, bahkan satu kamar memang sulit. Bahkan jika sang teman sekamar adalah sahabat terdekat kita sekalipun.


Terkadang, kita bingung bagaimana menegur teman sekamar untuk merapikan piring bekas makan, atau mengecilkan volume suara televisi. College Candy, Minggu (12/2/2012) melansir lima masalah umum antara teman sekamar dan solusinya.

Masalah 1: Dia pencuri


Selalu saja ada seseorang yang menginginkan sesuatu yang tidak mampu mereka miliki, sehingga mereka pun mengambilnya. Ketika hal itu dilakukan teman sekamarmu, tentu akan menimbulkan situasi yang tidak nyaman. Menuduh tanpa bukti pun akan membuat keadaan canggung di antara kamu dan teman sekamarmu, sementara, barang-barang kesayanganmu makin banyak hilang..

Solusi: Jika kamu menghadapi masalah ini, bertindaklah konfrontatif. Sebab, semakin lama kamu mendiamkannya, situasi akan semakin buruk. Berikan penjelasan kepada teman sekamarmu bahwa dia bisa meminjam barang-barang, tetapi dengan izin darimu. Jika dalam beberapa kali kamu menolak keinginannnya, mungkin dia akan mengerti. Tapi jika tidak dan barang-barangmu tetap menghilang, kamu bisa melaporkan masalah ini ke pengurus kos atau mengunci barang-barangmu di lemari.

Masalah 2: Dia ceroboh

Pakaiannya selalu berserakan di lantai dan di tempat tidur, bahkan ketika dia tidak sedang berdandan. Atau kamu menemukan rambutnya rontok di lantai, buku-buku dan kertas kerjanya bergeletakan di sudut ruang.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki kedisiplinan untuk selalu rapi dan bersih. Mungkin mereka terbiasa memiliki orang lain untuk membereskan semua kekacauan tadi, atau mungkin mereka hanya malas.

Solusi: Sekali lagi, situasi ini menuntutmu bersikap konfrintatif dan berkompormi, tapi bukan bermusuhan. Kamu memang tidak bisa berharap dia akan langsung menjadi orang yang rapi setelah mengajaknya bicara, tetapi kamu dapat meminta teman sekamarmu untuk menjaga kekacauan hanya pada sisi kamarnya, tidak pada seluruh kamar. 

Masalah 3: Dia berisik
Ketika hidup merantau, telepon adalah salah satu sarana untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan teman-teman lama. Tetapi, bagaimana jika teman sekamarmu terus menerus bertelepon, atau tidak berhenti menyetel musik dengan volume keras, bahkan mengundang teman-temannya maraton nonton dvd serial terbaru?

Solusi: Bicarakan baik-baik apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama kalian menjadi teman sekamar. Misalnya, mintalah dia untuk tidak ribut ketika kamu tidur, begitu juga sebaliknya. Jika dia masih ingin mendengarkan musik kesayangannya ketika kamu memintanya tidak mengganggu, mintalah dia menggunakan headphone.
Masalah 4: Dia jahat
Kita tidak selalu menemukan teman sekamar yang baik. Beberapa orang mungkin kesulitan beradaptasi untuk berbagi ruang yang sama dengan orang lain. Hal ini mungkin mengganggumu, apalagi jika kamu adalah mahasiswa tahun pertama yang berharap bertemu teman-teman baru. 

Solusi: Kamu bukan terapis, jadi jangan mencoba untuk 'menyembuhkannya'. Sebaliknya, terimalah fakta bahwa kamu dan teman sekamarmu tidak dapat bersahabat. Dan ketika kamu merasa dia makin tidak menyenangkan, tanyakan padanya apakah ada masalah yang mengganggunya. Siapa tahu dia sedang memiliki masalah keluarga, atau kesal karena beberapa kebiasaanmu. Kamu enggak akan pernah tahu jika tidak bertanya, kan?

Masalah 5: Dia terlalu ramah
Kamar kosmu mungkin salah satu tempat di mana kamu dapat menemukan kedamaian. Tetapi ketika teman sekamarmu terus menerus mendekati dan mengajakmu ngobrol, kamu mungkin akan merasa tidak nyaman juga.

Jangan salah, dia mungkin sedang membangun "ikatan" denganmu, dan ini adalah hal yang penting. Tetapi ketika pendekatannya terlalu berlebihan, kamu mungkin harus melakukan sesuatu.

Solusi: Masalah ini cukup rumit karena sang teman sedang berusaha mengakrabkan diri denganmu. Dan memintanya berhenti melakukan hal itu akan membuat suasana menjadi sangat canggung. Cobalah beri isyarat ketika kamu tidak ingin diganggu, misalnya dengan memakai headphone. Atau jika perlu, sampaikan dengan terus terang bahwa kamu sedang tidak ingin mengobrol.

0 komentar:

Posting Komentar